Rahasia Pohon Kayu Putih di Tabanan, Syahdan Muncul Nada Gamelan

Liga Berita – Pohon kayu putih di Desa Adat Bayan, Desa Tua, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan dianggap sakral. Pohon tersebut terhitung penuh rahasia.
Pohon tersebut tumbuh besar dan memberi tambahan keteduhan bagi sekitarnya. Ukurannya yang raksasa membawa pengaruh Desa Adat Bayan semakin mempesona.

Pohon kayu putih tersebut sempat membetot perhatian publik sesudah ada bule yang berfoto telanjang di sana terhadap Mei 2022. Padahal pohon tersebut tidak sembarang pohon. Pohon kayu putih sakral tersebut telah berusia 7 abad.

Tak hanya sakral pohon tersebut terhitung miliki kisahnya sendiri. Keliru satunya alunan gamelan yang terdengar sayup-sayup berasal berasal dari pohon tersebut terhadap hari eksklusif. Khususnya, waktu rahinan atau hari kudus umat Hindu di Bali.

“Meski secara tertulis bukan tersedia, cerita tersebut bagi sebagian orang dipercaya sebetulnya sahih. Khususnya para orang tua kita,” tutur Penyarikan Pura Babakan, Penyarikan Pura Babakan, I Made Kurna Wijaya, Sabtu (6/8/2022).

Syahdan, melodi sayup-sayup alunan gamelan tersebut bersumber berasal berasal dari gender atau gamelan wayang yang tertanam di bawah pohon yang diperkirakan berusia 700 tahun. tersebut.

Kurna Wijaya mengatakan, alunan gender kelanjutannya diklaim pernah didengar oleh para orang tua yang tinggal di kira-kira desa tradisi setempat. Khususnya di bawah masa 80-An.

“Memasuki era 80-An, zaman telah mulai bising, supaya alunan tersebut bukan terdengar kembali,” kata dia.

Menurut Kurna Wijaya tidak benar seorang yang pernah mendengarkan alunan gender yang sayup-sayup tersebut adalah ayahnya sendiri, I Wayan Raksa.

Ayahnya yang kini berusia kira-kira 90-An tersebut pernah menjadi prajuru Pura Babakan, area pohon yang dinamakan Kayu Putih tersebut tumbuh.

“Paman saya, I Nyoman Suparta, yang usianya sekarang kira-kira 60-An terhitung pernah mendengarnya. Namun cuma sekali,” kata Kurna Wijaya.

Ia menjelaskan keyakinan yang sempat berkembang tersebut lebih didasari pengalaman pribadi. Sebab sumber tertulis terkait kebenaran tersedia seperangkat gamelan di bawah pohon tersebut bukan ada sama sekali.

“Sumber tertulis bukan tersedia, tapi lebih dari satu orang meyakini tersebut sahih gara-gara berdasarkan pengalaman pribadi,” dia mengimbuhkan.

Di luar cerita tersebut, Pura Babakan yang menjadi areal tumbuhnya pohon Kayu Putih tersebut kerap didatangi warga setempat yang hendak nerang (Menangkal hujan) bersama asa upacara keagamaan yang hendak ditunaikan berlangsung lancar dan bukan terganjal faktor cuaca.

“Biasanya H-3 atau H-1 singgah ke Pura Babakan supaya upacara yang sudi dijalankan berlangsung lancar. Bukan terhambat faktor cuaca, terlebih hujan,” kata dia.